Asal Usul Kelurahan Sunggingan

The Ling Sing atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Telingsing, merupakan seorang mubaligh terkemuka asal Tiongkok yang mensyiarkan agama Islam di Kabupaten Kudus. Selain menjadi seorang mubaligh, Kyai Telingsing dikenal sebagai pemahat yang sakti.

Kehebatanya sebagai seorang pemahat, menjadikan seni ukir Kyai Telingsing dikenal oleh masyarakat sebagai aliran Sun Ging. Inilah kisah lengkap sosok dibalik aliran ukir Sungging.

Dikisahkan, Kanjeng Sunan Sungging merupakan seorang mubaligh keturunan Arab yang menyebarkan ajaran agama Islam di Tiongkok. Lama hidup di Tiongkok, Kanjeng Sunan Sungging menikah dengan seorang wanita Tiongkok, kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama The Ling Sing atau Kyai Telingsing.

Setelah Kyai Telingsing dewasa, ia mendapatkan wasiat dari ayahnya untuk pergi ke Nusantara. “Apabila engkau ingin menjadi orang yang mulia di dunia dan akhirat. Pergilah kamu ke negeri Nusantara, disanalah aku pernah berdiam,” pesan Ayah Telingsing pada anaknya.

Wasiat tersebut menghantarkan Kyai Telingsing ke Negeri Nusantara, tepatnya pada sebuah daerah di Tanah Jawa yang kini dikenal dengan Kota Kudus. Masyarakat Kudus saat itu masih beragama Hindu.

Di daerah tersebut, Kyai Telingsing menjalankan wasiat dari Kanjeng Sunan Sungging untuk meneruskan jejak Sang Ayah sebagai mubaligh di Negeri Nusantara. Dimulailah perjalanan dakwahnya, hingga mempertemukannya kepada Ja’far Shoddiq atau Sunan Kudus.

“Perjalanan dakwah mempertemukan Kyai Telingsing dengan Syekh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus. Dari pertemuan tersebut, membuat keduanya bekerjasama dalam mesyiarkan agama Islam di Kudus.

Dilanjutkannya, “Salah satu bentuk strategi dakwah yang dilakukan keduanya, yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Kudus sampai saat ini, adalah larangan menyembelih sapi. Larangan ini sebagai wujud toleransi beragama pada masyarakat Kudus yang masih menyembah sapi.”

Kedekatan keduanya terlihat saat Syekh Ja’far Shodiq kedatangan tamu dari Tiongkok, kemudian meminta Kyai Telingsing untuk membuatkan sebuah cinderamata yang akan diberikan pada tamunya tersebut.

“Perintah itu, dilaksanakn oleh Kyai Telingsing dengan membuatkan sebuah kendi dengan ukiran indah. Dan diperlihatkannya Kendi tersebut kepada Sunan Kudus, hingga membuat Sang Sunan tercengang. Penampilan kendi tersebut yang terkesan biasa saja, dirasa tidak pantas diberikan sebagai cinderamata untuk tamunya. Lalu Sunan Kudus melemparnya hingga pecah berkeping-keping,” kata juru kunci Makam Kyai Telingsing tersebut.

Dari pecahan kendi tersebut, terlihat sebuah ukiran indah pada bagian dalam kendi yang bertuliskan kalimah syahadat. Melihat hal tersebut Sunan Kudus terkagum-kagum dengan kesaktian yang dimiliki Kyai Telingsing.“Keahlian memahat yang dimiliki Kyai Telingsing dikenal sebagai aliran Sun Ging, yang begitu populer di masyarakat Kudus pada masa itu. Popularitas tersebut menjadikan nama daerah tempat Kyai Telingsing di makamkan diberinama Kelurahan Sunggingan, yang diambil dari nama aliran ukir Kyai Telingsing,” pungkas Munawir.

Sumber isknews.com

Bagikan Berita
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on print

Berita Lainnya

Link terkait

Kategori
Arsip
Juni 2024
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930